Keunikan dan keindahan alam Jailolo, yang melejit namanya melalui kegiatan tahunan Festival Jailolo, tak kunjung habis dieksplorasi. Pesona bawah laut, sensasi memanen pala dan cengkeh, hingga menikmati pemandangan tanjung perbukitan yang menjorok ke laut dari atas mercusuar berketinggian 40 meter di atas bukit adalah segelintir dari sekian banyak pesona Jailolo.

Setelah tim Jelajah Terumbu Karang Kompas menikmati bawah laut Jailolo selama tiga hari, tiba saatnya eksplorasi ringan dilakukan di bagian daratan. Kami mengawali penjelajahan ke lokasi yang masih berbau-bau laut, yakni Pulau Babua dan kampung-kampung pinggir pantai.

Pulau kecil bernama Babua yang terletak di dalam teluk itu penting bagi kultur warga Jailolo. Secara adat dan turun-temurun, sampai kini masih rutin ditaruh sesajen di atas perbukitan Babua yang tersusun dari batu-batu hitam berukuran besar.

Boleh dikatakan, Pulau Babua merupakan tempat keramat bagi orang-orang Jailolo. Bahkan, niat pemerintah setempat mendirikan tempat berteduh lengkap dengan fasilitas toilet mendapat tentangan dari warga. Fasilitas ini bahkan dirusak oleh pihak tak bertanggung jawab.

“Masyarakat khawatir, lokasi keramat kok dibangun toilet. Masyarakat khawatir juga tempat ini (Pulau Babua) malah dijadikan tempat aneh-aneh,” kata Muslim, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata Halmahera Barat, saat mendampingi Kompas ke Desa Guaeria, desa pengelola Pulau Babua.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Pulau Babua di Jailolo, Halmahera Barat, Kamis (27/7). Di pulau dengan luas hampir sama seperti Pastofiri itu terdapat makam keramat yang oleh warga setempat dinamakan jere. Babua yang terbentuk dari karang hitam dengan tinggi belasan meter diyakini menjadi tempat bersemayam para leluhur Jailolo yang dianggap sebagai kaum aulia.

Ia mengatakan, cerita turun-temurun masyarakat menyebutkan Raja Ternate pun harus mengitari Pulau Babua sebanyak tiga kali agar diizinkan masuk ke Jailolo. Jika hal itu tak dilakukan, perjalanan pemimpin kerajaan tetangga tersebut saat memasuki Jailolo akan dilanda badai.

Tempat wisata berbau pantai lainnya yang disuguhkan Jailolo ialah hutan mangrove Gamtala, yang bisa disusuri dengan perahu kayu. Tim Kompas sengaja menyediakan waktu sore hari untuk menyusuri rerimbunan hutan mangrove seluas 12 hektar. Tujuannya, agar bisa tiba di Pantai Marinbati di balik hutan mangrove tersebut tepat waktu untuk memburu foto dan video senja yang terkenal keelokannya.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Warga mendayung sampan di hutan mangrove di Gamtala, Jailolo, Halmahaera Barat, Selasa (25/7). Mangrove yang masih terjaga ini menjadi salah satu wisata andalan di Jailolo.

Selain beraroma pantai dan laut, Jailolo yang berada di kaki Gunung Jailolo juga menyimpan potensi lain untuk dinikmati. Gunung vulkanik ini menyimpan energi panas bumi yang berpotensi menjadi energi listrik bagi daerah setempat. Potensi panas bumi ini juga merambat sampai ke aliran-aliran airnya.

Jika kita menginap di pinggir pantai (tim Kompas menginap di Vila Sabua Gaba, salah satu penginapan awal yang dikelola Pemda Halmahera Barat), saluran air di dekat hotel pun dialiri air panas. Tak heran, berjarak sekitar 200 meter dari penginapan, di daerah Galala, warga kini menggiatkan kembali wisata air panas.

Kami juga sempat merasakan air panas alami itu saat berada di Desa Babo seusai trekking selama 45 menit menuju Mercusuar Tanjung Babo. Rute yang dilalui untuk menuju mercusuar merupakan jalur setapak yang biasa dilalui warga untuk merawat tanaman pala ataupun cengkeh.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Aliran air panas keluar dari pinggir pantai hingga sumur-sumur warga di Desa Babo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Air panas ini ditampung pada kolam buatan sebagai tempat berendam. Foto diambil Sabtu (29/7).

Kebun-kebun ini berada di pinggir jalan setapak. Muslim, warga setempat yang mendampingi tim Kompas, mengenalkan buah pala dan cengkeh segar yang dipetik dari pepohonan sekitar kepada rombongan.

Kulit dan daging buah pala segar yang sedikit asam dan wangi membuat perjalanan terasa menyenangkan. Belum lagi pemandangan cekungan pantai Desa Babo dan Desa Saria di kanan kiri ketika melewati punggungan bukit menuju Mercusuar Tanjung Babo.

Lokasi Menara Suar Babo ini berada di ketinggian sekitar 180 meter di atas permukaan laut. Menara mercusuar setinggi 40 meter ini dibangun pada 2001 dan mulai beroperasi tahun 2002.

Di bawah mercusuar itu terdapat rumah-rumah dinas para petugas penjaga mercusuar yang yang berasal dari Distrik Navigasi Kelas 1 Ambon Kementerian Perhubungan. Petugas setempat, La Hasimu, menyambut rombongan dengan sepiring pisang goreng hangat yang terasa nikmat disantap bersama teh panas.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Mercusuar Tanjung Babo di Desa Babo, Jailolo, Halmahera Barat, Sabtu (29/7).

Di sela-sela obrolan, La Hasimu menjelaskan bahwa sebenarnya mercusuar ini bukanlah lokasi pariwisata. Menara suar merupakan infrastruktur negara untuk memberi arah bagi kapal-kapal yang melintas di perairan setempat.

Ia meminta tim Kompas membantu menjelaskan kepada masyarakat agar tak menjadikan mercusuar sebagai tempat tujuan wisata umum. ”Selain riskan, juga sangat berbahaya,” katanya.

Imbauannya acap kali terkalahkan oleh tawaran pesona pemandangan biru laut Tanjung Babo dari ketinggian yang menyuguhkan aktivitas kapal di desa. Bila saatnya tepat, di lokasi ini pula bisa didapatkan momen matahari terbit ataupun tenggelam. (ICH/INK/FRN)