Enam tahun menemukan dan mengeksplorasi seni dan budaya masyarakat Halmahera Barat di Maluku Utara tak membuat penari Eko Supriyanto berpuas diri. Sejumlah karya tari kreatif, seperti Cry Jailolo dan Bala-bala, yang dihasilkan dari pergulatannya sukses menembus ruang-ruang pertunjukan seni di sejumlah negara.

 

Akhir Juli 2017, Eko, yang akrab disapa dengan panggilan Eko Pece itu, memberikan bocoran pergulatan eksplorasinya yang baru dalam ruang ekspresi yang baru pula. Di bawah laut Jailolo, ia yang mengenakan perlengkapan selam skuba menari-nari di depan sebuah karang masif setinggi sekitar 2 meter.

Ia yang awalnya ingin ”berburu” perjumpaan dengan hiu malah mempertontonkan eksperimennya. Kamera aksi yang dilengkapinya dengan filter warna merah diserahkan kepada Willi, pendamping selam yang menemani rombongan Kompas dan Eko Supriyanto.

Tak berapa lama, Eko, yang sengaja mengenakan peranti pengapung (buoyancy control device/BCD) model ”sayap” (wing) agar lebih leluasa bergerak dibandingkan mengenakan BCD reguler (jaket), mengambil ancang-ancang untuk bersiap menari. Mulai dari liukan tubuh hingga memutar di kolom air ia lakukan di bawah air.

 

Kompas/Ichwan Susanto

Seniman Eko Supriyanto mengeksplorasi potensi tubuhnya dalam tarian di bawah laut Pastofiri, Teluk Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, 26 Juli 2017. Ini dia lakukan untuk menemukan potensi-potensi gerak tubuh dalam ”melawan gravitasi” ketika melayang di kolom air.

Gerakan-gerakan tarian di bawah kedalaman sekitar 20 meter ini, menurut dia, dilakukan untuk mengeksplorasi ketubuhan. Ia mencari ruang pertunjukan berbeda dari ruang pentas di panggung menjadi ruang ”antigravitasi” di kolom air.

Disebut antigravitasi karena ia mempertahankan tubuh tetap melayang atau menjaga buoyancy di kolom air. Artinya, agar tubuh lebih mengapung atau lebih tenggelam, itu semua dalam kendali napasnya yang mengatur volume udara ke dalam paru-paru.

Melalui eksperimen dan latihan ini, ia berharap dapat menemukan ”sesuatu” yang ia sebut ”Salt”. ”Salt ini lebih pada eksplorasi dan refleksi saya pada diving dan dunia bawah laut juga tentang antigravitasi dan memasuki ruang nyaman, zona yang berbeda dari ruang seni pertunjukan,” kata Eko  saat berbincang di pondokan yang dibangun di Pulau Babua, di dalam Teluk Jailolo, akhir Juli lalu.

Salt, yang dipentaskan perdana di Belgia pada 14-15 Oktober 2017, akan melengkapi trilogi karya tari yang ia ciptakan di Jailolo setelah sebelumnya ia mengkreasi tarian Cry Jailolo dan Bala-bala. Tak seperti dua karya sebelumnya yang dipentaskan anak-anak didiknya di Jailolo, karya pamungkas Salt di akhir tahun ini bakal dipentaskannya sebagai tarian tunggal oleh Eko sendiri.

Salt akan berdiri sendiri tetapi sangat terkait bungkusnya dengan Halmahera Barat dan Jailolo yang merupakan refleksi seorang seniman yang datang dari kultur berbeda dan zona berbeda.

Tarian Salt ini secara koreografi sudah ditemukan olah gerakannya. Namun, secara konseptual, Eko mengakui masih terus melakukan pencarian melalui eksplorasi di bawah laut. Setidaknya itu akhir Juli lalu saat ia mempertontonkan eksperimen eksplorasi ketubuhannya sekitar 20 meter di bawah permukaan laut.

Zona baru dalam pengalamannya berkarya ini merupakan bagian dari eksplorasi berkeseniannya. Sebuah pencarian metodologi dengan kontras dari dua zona kehidupan berbeda. ”Output-nya adalah bagaimana penari harus bisa memasuki ruang-ruang yang berbeda. Lintas batas, lintas kultural, lintas dimensi, dan lintas batas tubuh,” kata Eko.

 

Kompas/Ichwan Susanto

Seniman Eko Supriyanto mengeksplorasi potensi tubuhnya dalam tarian di bawah laut Pastofiri, Teluk Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, 26 Juli 2017.

Salt juga hasil perenungan Eko sejak 2011 berkegiatan di Halmahera Barat. Wacana seni baru yang diperolehnya dari pergumulan dengan tari-tarian tradisional Halmahera Barat seperti soyasoya, cakalele, dan dabidabi dikembalikan Eko pada esensinya yang berhubungan dengan laut.

Sebagai bagian dari trilogi, Salt tidak bisa disebutkan bakal memiliki hubungan dengan Bala-bala dan Cry Jailolo. Ini sebagaimana juga tidak ada hubungan antara Bala-bala dan Cry Jailolo. Namun, ketiganya terkait erat dengan konsep kebudayaan maritim yang menghidupi orang-orang di Halmahera Barat.

”Salt akan berdiri sendiri tetapi sangat terkait bungkusnya dengan Halmahera Barat dan Jailolo yang merupakan refleksi seorang seniman yang datang dari kultur berbeda dan zona berbeda, kemudian memasuki ruang eksplorasi yang beragam dan kuat,” kata Eko. (ICH/INK/FRN)