Akbar (37), pengurus Forum Nelayan Binongko, terkulai lesu. Wajahnya pucat seusai membantu tim pemantau terumbu karang memasang dan menggulung meteran transek tiga kali 50 meter di lokasi pengamatan kaombo, Selasa (26/9) siang.

Ia menyerah tak dapat melanjutkan lagi penyelaman di kemudian hari. ”Saya pusing. Capek sekali,” katanya saat terduduk di kursi perahu cepat seusai penyelaman.

Hari itu ia menyelam sebagai perwakilan masyarakat Desa Wali di Kecamatan Binongko, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, untuk mendampingi tim pemantau dari WWF Indonesia dan Balai Taman Nasional Wakatobi. Tim Kompas turut dalam pemantauan perdana yang akan menjadi data awal (baseline) pengukuran-pengukuran selanjutnya di sekitar kaombo. Wilayah kaombo berada di perairan Pantai Wengka-wengka sejauh 200 meter ke arah laut. Areanya mengikuti garis pantai sejauh 600 meter yang kemudian diukur lebih akurat dengan GPS mencapai 1.000 meter.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Kondisi bawah laut di titik penyelaman Kaombo Wali 03 di Desa Wali, Binongko, Wakatobi, Rabu (27/9). Titik penyelaman ini merupakan area perlindungan adat atau kaombo yang diberlakukan sejak tahun 2015. Masyarakat menutup perairannya dari aktivitas penangkapan dan eksploitasi lainnya.

Perairan ini dilindungi secara adat sejak tahun 2015 oleh masyarakat adat Desa Wali. Jangankan menangkap ikan dan biota lainnya, siapa pun dilarang membuang jangkar di situ.

Sementara untuk pemantauan, Sarano Wali atau pranata adat setempat, mengizinkan tim Kompas untuk turun ke perairan itu. ”Asal jangan mengambil sesuatu dari kaombo (kecuali foto). Jangan pakai perhiasan logam. Juga jangan pakai baju merah dan menggunakan bahasa Buton di kaombo,” pesan Lakina Sarano Wali, La Ode Hasahu, Senin siang hari.

Berbekal ini, sore harinya, tim Kompas bergabung dengan tim pemantau menyelam di perairan Pantai Yoro. Perairan yang mewakili zona pariwisata ini berimpitan dengan kawasan Pantai Wengka-wengka.

Di perairan Pantai Yoro, penyelaman dilakukan hingga kedalaman 16,4 meter selama 40 menit. Suhu di permukaan sepanas 31 derajat celsius terus turun bertahap hingga 28 derajat celsius seiring makin dalam kolom air.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Kondisi bawah laut di titik selam zona pariwisata Pantai Yoro di Desa Wali, Binongko, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terlihat pada Rabu (27/9). Wilayah perairan di Desa Wali terbagi menjadi zona pariwisata, zona pemanfaatan lokal, dan zona kaombo.

Tim pemantau sesuai prosedur ilmiah ”hanya” mengambil data di kedalaman 5 meter dan 10 meter. Di tiap kedalaman itu, mereka memasang transek menggunakan meteran gulung dengan panjang 50 meter sebanyak tiga kali.

Dalam tim pemantau, minimal terdapat seorang sebagai roll man atau tukang menarik dan menggulung meteran, seorang pencatat tutupan karang di setiap sentimeter transek, dan seorang pengamat ikan.

Di atas perahu, anak buah kapal atau kapten kapal bertugas mencatat titik koordinat lokasi pengamatan. Tujuannya agar pemantauan mendatang bisa dilakukan di titik yang sama.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Kawanan lumba-lumba terlihat di perairan Desa Wali, Binongko, Wakatobi, Selasa (26/9). Lumba-lumba akan terlihat di perairan ini saat musim migrasi.

Tukang meteran biasa diberikan kepada seorang yang masih belum banyak pengalaman dalam pemantauan. Karena itulah, Akbar yang baru mendapatkan sertifikat selam mendapatkan tugas itu. Meski sederhana, tugas menggulung meteran ini bukan perkara mudah. Apalagi, saat kondisi perairan sedang berarus. Akbar kelelahan dan pusing karena melawan arus.

Menggulung meteran yang sangat mudah dilakukan di darat menjadi sangat berat ketika dipraktikkan di bawah air dalam kondisi melawan arus. Apabila tak digulung, risikonya meteran tersangkut karang ataupun saling terlilit. Kondisi perairan berarus menjadi tantangan bagi penyelaman wisata ataupun penyelaman penelitian di Binongko, apalagi lokasi penyelaman di kaombo dan sekitarnya yang berada di ujung tenggara ”Pulau Pandai Besi” itu.

Berisiko

Ujung pulau itu berada di antara Laut Banda dan Laut Flores yang sama-sama membawa massa air sangat besar. Apabila perhitungan waktu dan arus tidak benar, risiko penyelam terbawa jauh, atau bahkan hilang, sangat besar. Pertimbangan ini yang membuat Kartika Sumolang, ketua tim pemantau, segera mengubah rencana penyelaman kedua pada Senin itu karena kondisi permukaan air yang tampak berarus.

Selain pekerjaan di dalam laut, hasil pengukuran yang dicatat di kertas tahan air ataupun papan (slate) dengan menggunakan pensil harus dipindahkan dan diolah di komputer. Ini agar hasilnya dapat dimengerti dengan angka tutupan persentase karang ataupun biomassa serta kelimpahan ikan. (ICHWAN SUSANTO/INGKI RINALDI)